Prodi Ekonomi Islam FEB USK Perkuat Jiwa Entrepreneurship Mahasiswa melalui Kegiatan “Berani Memulai, Berani Menjadi Entrepreneur”
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Banda Aceh, 9 September 2026 – Program Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (FEB USK) melaksanakan kegiatan Penguatan Entrepreneurship Mahasiswa dengan tema “Berani Memulai, Berani Menjadi Entrepreneur”, Rabu (9/9/2026), di Balai Sidang FEB USK.
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.30–12.00 WIB tersebut menghadirkan Mahmuda, S.T., Owner Sada Coffee, sebagai pemateri. Workshop ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk membangun keberanian memulai usaha, mengembangkan kreativitas, membaca peluang, serta menumbuhkan pola pikir kewirausahaan yang adaptif dan berorientasi pada kebermanfaatan.
Ketua Program Studi Ekonomi Islam FEB USK, Khairil Umuri, M.Ag., dalam pembukaan kegiatan menekankan bahwa perguruan tinggi tidak hanya bertugas mempersiapkan mahasiswa menjadi pencari kerja, tetapi juga perlu membangun kapasitas mereka untuk menciptakan peluang ekonomi dan lapangan kerja.
“Kami ingin mahasiswa Ekonomi Islam memiliki keberanian untuk melihat peluang dan mulai mencoba. Tidak semua mahasiswa harus menjadi pengusaha, tetapi setiap mahasiswa perlu memiliki karakter seorang entrepreneur, seperti kreatif, mampu membaca peluang, berani mengambil keputusan, tangguh menghadapi kegagalan, serta mampu memberikan solusi atas persoalan yang ada,” ujar Khairil.
Menurutnya, kegiatan penguatan entrepreneurship menjadi bagian penting dalam membekali mahasiswa dengan pengalaman dan perspektif praktis dari pelaku usaha. Mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami konsep bisnis di ruang kelas, tetapi juga memperoleh gambaran nyata mengenai proses membangun dan mengembangkan sebuah usaha.
Hal tersebut sejalan dengan materi workshop yang menempatkan berani memulai, berani mengambil risiko, inovatif, mampu membaca peluang, dan pantang menyerah sebagai lima karakter penting seorang entrepreneur.
Kepala Departemen Ekonomi Pembangunan FEB USK, Prof. Dr. Sofyan Syahnur, S.E., M.Si., turut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, kemampuan kewirausahaan semakin penting di tengah perubahan struktur ekonomi, perkembangan teknologi, dan semakin dinamisnya kebutuhan pasar.
“Mahasiswa harus mulai melihat entrepreneurship sebagai kompetensi yang relevan dengan masa depan mereka. Dunia kerja berubah dengan cepat dan peluang-peluang baru terus muncul. Karena itu, mahasiswa perlu dibekali kemampuan membaca peluang, membangun jejaring, berinovasi, dan mengubah ide menjadi aktivitas produktif yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” ungkap Sofyan.
Ia menambahkan bahwa pengembangan entrepreneurship juga memiliki keterkaitan yang kuat dengan disiplin Ekonomi Islam, terutama dalam mendorong aktivitas ekonomi produktif yang dilaksanakan secara jujur, amanah, adil, dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, Dr. A. Sakir, S.E., M.M., CFRM, memberikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, pembelajaran di perguruan tinggi perlu semakin banyak menghadirkan pengalaman praktis yang mempertemukan mahasiswa dengan dunia usaha dan para praktisi.
“FEB USK mengapresiasi kegiatan seperti ini karena mahasiswa mendapatkan kesempatan belajar langsung dari pengalaman seorang entrepreneur. Pengetahuan akademik perlu dipadukan dengan keberanian mencoba, kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta pengalaman menghadapi persoalan nyata dalam menjalankan usaha,” ujar Sakir.
Ia berharap mahasiswa dapat menjadikan pengalaman yang disampaikan pemateri sebagai inspirasi sekaligus pembelajaran bahwa suatu usaha yang berkembang besar selalu membutuhkan proses, konsistensi, pembelajaran, dan kemampuan untuk terus melakukan perbaikan.
“Yang paling penting bukan sekadar mendorong mahasiswa membuka usaha, tetapi membangun mentalitas untuk produktif, mandiri, inovatif, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai tersebut sangat penting bagi lulusan FEB USK dalam menghadapi dunia kerja maupun ketika memilih jalur entrepreneurship,” tambahnya.
Dalam pemaparannya, Mahmuda, S.T. mengawali pembahasan dengan berbagai alasan yang kerap membuat seseorang tidak kunjung memulai bisnis, mulai dari takut gagal, merasa tidak memiliki modal, terlalu banyak berpikir tanpa melakukan aksi, bingung harus memulai dari mana, takut produk tidak laku, hingga khawatir diremehkan.
Salah satu pesan utama yang disampaikan kepada mahasiswa adalah bahwa persoalan terbesar calon pebisnis sering kali bukan terletak pada ketiadaan modal, melainkan pada ketidakberanian untuk memulai.
“Entrepreneur bukan orang yang tidak takut gagal. Entrepreneur adalah orang yang tetap bergerak meskipun takut gagal,” demikian salah satu pesan yang disampaikan Mahmuda dalam materi workshop.
Melalui pengalamannya membangun Sada Coffee, Mahmuda juga membagikan perjalanan usaha yang dimulai di Banda Aceh pada 2013. Saat pasar kopi lokal masih kuat dengan konsumsi robusta saring, Sada Coffee mengambil pilihan untuk fokus pada pasar arabica specialty. Dalam perjalanan berikutnya, Sada Coffee mengikuti kompetisi lelang kopi specialty, melakukan ekspansi ke Medan, memperluas pasar melalui pameran dan marketplace, hingga mengikuti sertifikasi internasional di bidang kopi.
Pengalaman tersebut menjadi contoh bagi mahasiswa bahwa pengembangan bisnis merupakan proses bertahap yang membutuhkan keberanian mencoba, kemampuan membaca pasar, konsistensi, serta kemauan untuk terus meningkatkan kompetensi.
Mahmuda turut menekankan bahwa calon entrepreneur tidak seharusnya menunggu seluruh kondisi menjadi sempurna sebelum mengambil langkah pertama. Dalam materi yang disampaikan, proses entrepreneurship digambarkan melalui alur ide, action, evaluation, improvement, yakni sebuah ide perlu diuji melalui tindakan, kemudian dievaluasi dan terus diperbaiki. Sebaliknya, ide yang hanya diikuti ketakutan dan terlalu banyak berpikir berisiko tidak pernah diwujudkan.
Materi tersebut juga menunjukkan bahwa modal entrepreneurship tidak terbatas pada uang. Motivasi yang kuat, kemauan untuk terus belajar, kemampuan membangun relasi, dan pemanfaatan waktu merupakan modal penting yang perlu dipersiapkan seorang entrepreneur.
Ketika sebuah bisnis telah berjalan, mahasiswa juga diingatkan mengenai pentingnya membangun sistem melalui SOP, tim, branding, pengelolaan keuangan, pemasaran, quality control, dan manajemen. Dalam konteks entrepreneur Muslim, Mahmuda menempatkan nilai jujur, amanah, ihsan, halal, adil, dan sedekah atau kebermanfaatan sebagai prinsip yang perlu dijaga dalam menjalankan usaha.
Melalui kegiatan ini, Prodi Ekonomi Islam FEB USK berharap mahasiswa tidak berhenti pada keinginan untuk memiliki usaha, tetapi mulai mengubah gagasan menjadi langkah nyata. Entrepreneurship dipahami bukan sekadar aktivitas mencari keuntungan, melainkan kemampuan menemukan persoalan, menghadirkan solusi, menciptakan nilai tambah, dan membangun aktivitas ekonomi yang bermanfaat.
Pesan penutup materi merangkum semangat tersebut. Mahmuda menegaskan bahwa tidak semua mahasiswa di ruangan harus menjadi pengusaha, tetapi setelah mengikuti kegiatan tersebut diharapkan tidak lagi ada mahasiswa yang terus mengatakan ingin memiliki bisnis namun selalu menundanya.
Kegiatan Penguatan Entrepreneurship Mahasiswa “Berani Memulai, Berani Menjadi Entrepreneur” sekaligus menjadi bagian dari komitmen Program Studi Ekonomi Islam FEB USK dalam memperkuat kompetensi mahasiswa agar memiliki keberanian, kemandirian, kreativitas, serta karakter entrepreneurship yang berpijak pada nilai-nilai etika dan Ekonomi Islam.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya


Komentar
Posting Komentar