Prodi Ekonomi Islam FEB USK Gelar Kuliah Umum Inovasi dan Kewirausahaan, Dorong Mahasiswa Berani Memulai Bisnis

Banda Aceh, 30 September 2026 – Program Studi Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (FEB USK) menyelenggarakan Kuliah Umum Inovasi dan Kewirausahaan bertema “Start Small, Dream Big: Membangun Bisnis dari Langkah Kecil”, Rabu (30/9/2026), pukul 08.00–12.00 WIB di Ruang Seminar EKP FEB USK.

Kegiatan menghadirkan Yudhi Ridhayat, Owner Sabun Zuper Aceh sekaligus Direktur PT Jagoan Anti Noda, sebagai narasumber. Kuliah umum dimoderatori oleh Fitrah Afandi ZT, M.Si., dosen Program Studi Ekonomi Islam FEB USK.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diajak melihat kewirausahaan bukan sebagai sesuatu yang harus dimulai dengan skala besar, melainkan proses yang dapat tumbuh dari keberanian mengambil langkah pertama, kemampuan belajar dari kegagalan, konsistensi, serta kesediaan memperbaiki bisnis secara berkelanjutan.

Ketua Program Studi Ekonomi Islam FEB USK, Khairil Umuri, M.Ag., dalam sambutannya menyampaikan bahwa penguatan kewirausahaan merupakan salah satu kompetensi penting bagi mahasiswa di tengah semakin dinamisnya dunia kerja dan perkembangan ekonomi.

“Kami ingin mahasiswa Ekonomi Islam tidak hanya memiliki ide, tetapi juga mempunyai keberanian untuk mengubah ide tersebut menjadi aksi. Tidak semua usaha harus dimulai dengan modal besar dan skala besar. Banyak bisnis justru tumbuh dari langkah kecil yang dikerjakan dengan serius, konsisten, dan terus diperbaiki,” ujar Khairil.

Menurutnya, semangat “Start Small, Dream Big” sangat relevan untuk mahasiswa karena masa kuliah merupakan waktu yang baik untuk mulai bereksperimen, mengembangkan kreativitas, membaca peluang, dan membangun pengalaman.

“Jangan sampai mahasiswa terus menunggu kondisi sempurna untuk memulai. Kesempatan belajar dari praktisi seperti Pak Yudhi harus dimanfaatkan untuk memahami bahwa proses kewirausahaan juga berisi kegagalan, evaluasi, dan keberanian untuk bangkit kembali,” tambahnya.

Khairil berharap kegiatan tersebut semakin memperkuat budaya entrepreneurship di Program Studi Ekonomi Islam, tetapi tetap berlandaskan nilai kejujuran, tanggung jawab, kemanfaatan, dan prinsip-prinsip ekonomi Islam.

Kepala Departemen Ekonomi Pembangunan FEB USK, Prof. Dr. Sofyan Syahnur, memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan kuliah umum tersebut. Menurutnya, mahasiswa perlu dibekali kemampuan untuk melihat perubahan ekonomi sebagai peluang menciptakan nilai baru.

“Kewirausahaan tidak hanya berbicara mengenai mendirikan perusahaan, tetapi mengenai kemampuan mengenali persoalan, menemukan peluang, menghadirkan solusi, dan menghasilkan nilai tambah. Kemampuan seperti ini sangat penting bagi mahasiswa ketika nantinya memasuki masyarakat dan dunia kerja,” ungkap Sofyan.

Ia menilai interaksi mahasiswa dengan pelaku usaha memberikan pembelajaran yang berbeda dari proses perkuliahan reguler karena mahasiswa dapat melihat langsung bagaimana sebuah bisnis mengalami proses trial and error.

“Teori yang diperoleh di kelas akan semakin bermakna ketika mahasiswa dapat membandingkannya dengan pengalaman nyata seorang pengusaha. Dari sana mahasiswa belajar bahwa keberhasilan tidak datang secara instan, tetapi dibangun melalui proses panjang, kemampuan beradaptasi, dan ketekunan,” tambahnya.

Dekan FEB USK, Dr. A. Sakir, S.E., M.M., CFRM, memberikan apresiasi terhadap inisiatif Program Studi Ekonomi Islam yang menghadirkan praktisi usaha untuk berbagi pengalaman secara langsung dengan mahasiswa.

“FEB USK mengapresiasi kegiatan yang mempertemukan mahasiswa dengan entrepreneur dan pelaku industri. Pembelajaran seperti ini penting untuk melengkapi kompetensi akademik dengan wawasan praktis, keberanian mengambil keputusan, inovasi, serta kemampuan membaca peluang,” ujar Sakir.

Menurutnya, perguruan tinggi perlu mendorong mahasiswa agar tidak hanya mempersiapkan diri sebagai pencari kerja, tetapi juga mempunyai kapasitas untuk menciptakan aktivitas ekonomi baru.

“Ketika mahasiswa mampu mengembangkan usaha, menciptakan produk, membuka pasar, dan pada akhirnya menciptakan lapangan kerja, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh masyarakat. Karena itu, semangat entrepreneurship perlu terus dikembangkan,” tambahnya.

Dalam sesi utama, Yudhi Ridhayat membagikan perjalanan kewirausahaannya yang tidak selalu berjalan mulus. Materi yang disampaikan menunjukkan sejumlah usaha yang pernah dijalankan tetapi mengalami kegagalan, mulai dari TB Aufa yang dirintis pada 2008, Studio Music Aufa pada 2009, Harmony Karaoke pada 2012, Harmony Foodcourt pada 2013, hingga sejumlah usaha lainnya dalam periode berikutnya.

Perjalanan tersebut menjadi bagian penting dari pesan kewirausahaan yang disampaikan kepada mahasiswa. Kegagalan tidak diposisikan sebagai akhir dari perjalanan, tetapi sebagai pengalaman untuk mengevaluasi model bisnis dan menemukan peluang baru. Dalam materi kuliah umum, Yudhi menegaskan bahwa versi pertama sebuah bisnis hampir pasti belum menjadi versi terbaik.

“Versi bisnis pertama Anda tidak akan menjadi yang terbaik. Teruskan saja,” demikian salah satu pesan yang ditampilkan dalam materi.

Pengalaman panjang tersebut kemudian berkembang hingga lahir bisnis produk kebersihan Zuper, yang dikembangkan melalui PT Jagoan Anti Noda. Materi juga menunjukkan pendekatan pemasaran yang memadukan pemasaran langsung, literasi produk, dan edukasi konsumen. 

Yudhi merangkum materi kewirausahaan dalam lima prinsip dasar untuk menjadi young entrepreneur, yaitu Building a Business Mindset, Starting Now, Positive Circle, Focus, Focus, Focus, dan Don’t Give Up.

Prinsip pertama adalah membangun business mindset. Mahasiswa perlu membangun pola pikir yang menempatkan fungsi, perencanaan keuangan, investasi, dan kemampuan memanfaatkan keadaan secara lebih produktif. Materi juga mengingatkan bahwa banyak pengusaha pemula berhenti karena memiliki ekspektasi memperoleh keuntungan besar dalam waktu yang terlalu cepat.

Prinsip kedua adalah starting now. Sebuah gagasan bisnis tidak akan memberikan hasil apabila hanya terus direncanakan tanpa pernah dieksekusi. Karena itu, keberanian mencoba menjadi bagian penting dalam perjalanan kewirausahaan.

Prinsip ketiga adalah membangun positive circle. Yudhi antara lain mendorong calon entrepreneur untuk mencari mentor bisnis. Mentor dapat membantu memberikan bimbingan dan wawasan, memperluas jaringan, memberikan inspirasi dan dorongan, serta menjadi salah satu sumber dukungan ketika menghadapi persoalan dalam mengembangkan usaha. 

Mahasiswa juga diajak berada dalam lingkungan bisnis yang sehat dan dinamis, tempat berbagai pemangku kepentingan dan perspektif dapat memberikan wawasan baru dalam melihat peluang maupun persoalan. 

Prinsip keempat adalah fokus. Setelah menentukan bisnis yang akan dikembangkan, entrepreneur harus mampu menjaga konsistensi, melakukan evaluasi, dan terus melakukan inovasi.

Sementara prinsip kelima adalah don’t give up. Kegagalan merupakan bagian yang sangat mungkin terjadi dalam proses membangun usaha sehingga mental untuk bangkit kembali menjadi salah satu modal penting entrepreneur. Materi Yudhi menegaskan pesan sederhana, “Jika gagal, coba lagi. Jika jatuh, bangkit lagi.” 

Kuliah umum berlangsung interaktif dengan pembahasan mengenai bagaimana mahasiswa dapat mulai membangun usaha dari kapasitas yang dimiliki saat ini. Modal kewirausahaan tidak selalu harus dimaknai sebagai uang dalam jumlah besar, melainkan dapat dimulai dari gagasan, keberanian mencoba, kemampuan membaca kebutuhan konsumen, jejaring, serta kemauan untuk terus belajar.

Melalui tema “Start Small, Dream Big: Membangun Bisnis dari Langkah Kecil”, mahasiswa didorong untuk tidak takut memulai hanya karena usaha yang dibangun masih sederhana.

Kegiatan ini sekaligus mempertegas komitmen Program Studi Ekonomi Islam FEB USK dalam mengembangkan pembelajaran yang mengintegrasikan kompetensi akademik, inovasi, entrepreneurship, pengalaman praktisi, serta nilai-nilai Ekonomi Islam.

Program Studi Ekonomi Islam FEB USK berharap kuliah umum tersebut dapat menumbuhkan lebih banyak mahasiswa yang berani menguji gagasan bisnis, membangun produk dan jasa yang memberikan solusi, serta secara bertahap berkembang menjadi entrepreneur yang mandiri, inovatif, beretika, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Khairun Nisa (Yusa Kitchen) Raih Tenant Omzet Tertinggi EXSIS Ramadhan USK 2026, Bukukan Rp25,74 Juta dalam 20 Hari

Lepas Sambut Direktur, Kepemimpinan Beralih dari Prof. Rahmat Fadhil kepada Dr. Wira Dharma

Prodi Ekonomi Islam FEB USK Gelar International Benchmarking Bersama BangNano Kanada, Perkuat Kurikulum Berbasis AI dan Fair Economics