Prodi Ekonomi Islam FEB USK Gelar International Benchmarking Bersama BangNano Kanada, Perkuat Kurikulum Berbasis AI dan Fair Economics
Banda Aceh – Program Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (FEB USK) menyelenggarakan kegiatan International Benchmarking & Curriculum Development Workshop bersama BangNano, Kanada, Senin, 31 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 16.00 WIB di Ruang Seminar Ekonomi Islam FEB USK tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan kurikulum dan kompetensi lulusan agar semakin adaptif terhadap perubahan teknologi, perkembangan ekonomi global, serta kebutuhan dunia kerja masa depan.
Kegiatan mengangkat tema “Integrating Global Technology, Ethical & Interest-Free Social Finance Insights with BangNano (Canada)” dan menghadirkan Parama Danoesubroto, Founder and Chairman BangNano socio-economic movement, sebagai pembicara utama.
Pertemuan tersebut difokuskan pada sejumlah agenda strategis, antara lain perumusan kompetensi lulusan, benchmarking struktur kurikulum, serta diskusi kelompok terarah mengenai pengembangan konten pembelajaran. Pembahasan tidak hanya diarahkan pada penguatan keilmuan Ekonomi Islam, tetapi juga pada bagaimana program studi merespons perkembangan artificial intelligence atau AI, kewirausahaan, perubahan kebutuhan dunia kerja, serta pengembangan model ekonomi yang lebih adil dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Dalam sesi berbagi pengalaman, salah satu perhatian utama adalah kebutuhan untuk mempersiapkan lulusan agar tidak hanya mampu bekerja sesuai bidang keilmuannya, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi, bekerja lintas disiplin, dan membangun mentalitas kewirausahaan. Mahasiswa didorong untuk mampu mengidentifikasi dan menyelesaikan persoalan ekonomi secara sistematis, sekaligus memiliki orientasi untuk menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat.
Integrasi Ekonomi Islam, Kewirausahaan, dan Teknologi
Pembahasan dalam workshop menekankan bahwa perkembangan pendidikan Ekonomi Islam tidak dapat dilepaskan dari dinamika teknologi dan perubahan struktur perekonomian. Instrumen ekonomi Islam seperti zakat, wakaf, dan berbagai bentuk dana produktif dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui pendekatan yang lebih inovatif dan pemanfaatan teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat kontemporer.
Dalam konteks tersebut, turut dibahas gagasan fair economics, yakni pendekatan ekonomi yang menempatkan keadilan, kemakmuran masyarakat, pertumbuhan, dan ketahanan ekonomi sebagai perhatian utama. BangNano sendiri dikembangkan sebagai ekosistem ekonomi berbasis teknologi dan AI yang membawa konsep fair economics, sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan akademisi dan UMKM, termasuk peluang pengembangan ekonomi masyarakat di Aceh.
Ketua Program Studi Ekonomi Islam FEB Universitas Syiah Kuala, Khairil Umuri, M.Ag., menyampaikan bahwa kegiatan international benchmarking ini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat arah pengembangan kurikulum Ekonomi Islam agar relevan dengan perubahan lingkungan global. “Program Studi Ekonomi Islam harus terus bergerak mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas keilmuannya. Kita ingin menghasilkan lulusan yang kuat dalam pemahaman ekonomi Islam, tetapi pada saat yang sama mampu beradaptasi dengan teknologi, memiliki kemampuan problem solving, berjiwa entrepreneur, dan mampu menjawab persoalan nyata yang ada di tengah masyarakat,” ujar Khairil Umuri.
Menurutnya, pembelajaran Ekonomi Islam ke depan perlu semakin menghubungkan teori dengan persoalan riil. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami konsep dan instrumen ekonomi syariah, tetapi juga harus mampu melihat bagaimana konsep tersebut dapat digunakan untuk membangun solusi yang produktif, berkelanjutan, dan berdampak bagi masyarakat. “Kita memiliki instrumen yang sangat kuat dalam ekonomi Islam, seperti zakat, wakaf, keuangan sosial Islam, dan berbagai skema ekonomi berbasis kemitraan. Tantangan kita adalah bagaimana mahasiswa mampu mengembangkan instrumen tersebut dengan pendekatan yang lebih inovatif dan memanfaatkan teknologi. Karena itu, masukan dari praktisi dan pengalaman internasional seperti yang kita peroleh melalui BangNano sangat penting bagi pengembangan Prodi,” tambahnya.
AI Harus Menjadi Alat untuk Berpikir
Salah satu isu penting yang mendapat perhatian dalam kegiatan tersebut adalah perkembangan AI dan implikasinya terhadap pendidikan tinggi. AI dinilai tidak seharusnya sekadar digunakan sebagaimana mesin pencarian, tetapi harus dimanfaatkan sebagai alat untuk membantu manusia berpikir, menganalisis masalah, menciptakan solusi, dan meningkatkan produktivitas.
Perkembangan AI juga dinilai perlu menjadi salah satu pertimbangan penting dalam evaluasi dan pengembangan kurikulum. Pemanfaatannya dalam proses pembelajaran harus berlangsung secara seimbang dengan tetap memperkuat kemampuan fundamental mahasiswa, seperti critical thinking, problem solving, kreativitas, dan kemampuan menyusun strategi.
Kepala Departemen Ekonomi Pembangunan FEB USK, Prof. Dr. Sofyan Syahnur, menyatakan dukungannya terhadap langkah Program Studi Ekonomi Islam dalam membuka ruang benchmarking dan diskusi bersama praktisi internasional. “Kurikulum perguruan tinggi harus dinamis dan mampu membaca perubahan lingkungan. Perkembangan AI, transformasi digital, dan perubahan model bisnis akan memengaruhi kompetensi yang dibutuhkan beberapa tahun ke depan. Karena itu, kegiatan seperti ini penting agar kurikulum tidak hanya menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga mengantisipasi kebutuhan masa depan,” ungkap Prof. Sofyan Syahnur.
Menurutnya, kemampuan menggunakan teknologi tetap harus dibangun di atas fondasi kompetensi utama yang kuat. Teknologi tidak boleh menggantikan kemampuan manusia untuk berpikir, menganalisis, membuat keputusan, dan memahami persoalan secara mendalam. “AI adalah tools. Mahasiswa harus menguasainya, tetapi jangan sampai kehilangan kemampuan dasarnya. Penguasaan bidang keilmuan, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kemampuan menyelesaikan masalah, komunikasi, dan integritas harus tetap menjadi fondasi. Setelah fondasi itu kuat, teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas dan memperluas kemampuan lulusan,” jelasnya.
Hal tersebut sejalan dengan salah satu pesan yang mengemuka dalam workshop, yakni “If you choose one profession, be the best in that field.” Pesan tersebut menegaskan pentingnya membangun kompetensi utama secara kuat sebelum kemudian memperluas kemampuan melalui strategi dan pemanfaatan teknologi AI.
Dosen Semakin Berperan sebagai Mentor
Perubahan teknologi juga membawa konsekuensi terhadap metode pembelajaran dan peran dosen. Dalam diskusi disebutkan bahwa perkembangan AI mendorong pergeseran peran dosen dari sekadar penyampai informasi menjadi mentor dan fasilitator yang membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan analitis dan menyelesaikan persoalan.
Pada saat yang sama, pengembangan AI di lingkungan pendidikan perlu tetap menggunakan pendekatan human-centered. Tantangan pendidikan tidak hanya terletak pada seberapa jauh mahasiswa dapat menggunakan teknologi, tetapi bagaimana teknologi tersebut tetap ditempatkan sebagai instrumen yang mendukung pengembangan kompetensi dan nilai kemanusiaan.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, Dr. A. Sakir, S.E., M.M., CFRM, memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, international benchmarking merupakan salah satu instrumen penting dalam menjaga relevansi dan meningkatkan mutu pendidikan di FEB USK. “Kami mengapresiasi inisiatif Program Studi Ekonomi Islam yang menghadirkan perspektif internasional dalam proses pengembangan kurikulum. Perguruan tinggi harus terus melakukan evaluasi agar kompetensi lulusan tetap relevan dengan perkembangan teknologi, kebutuhan dunia usaha dan industri, serta tantangan pembangunan masyarakat,” ujar Dr. A. Sakir.
Ia menilai bahwa pembaruan kurikulum tidak semata-mata berarti menambahkan mata kuliah baru, tetapi juga menyempurnakan kompetensi, metode pembelajaran, keterlibatan praktisi, serta kemampuan mahasiswa dalam menghubungkan keilmuan dengan persoalan nyata. “FEB USK mendorong setiap program studi untuk membangun kolaborasi yang semakin luas, baik dengan perguruan tinggi, praktisi, pelaku usaha maupun mitra internasional. Kolaborasi tersebut harus bermuara pada peningkatan kualitas proses pembelajaran dan kualitas lulusan. Kita ingin lulusan FEB USK memiliki kompetensi yang kuat, adaptif terhadap teknologi, berintegritas, dan mampu memberikan dampak bagi masyarakat,” tambahnya.
Membuka Ruang Kolaborasi Multidisiplin
Workshop juga menghasilkan perspektif mengenai pentingnya kolaborasi lintas disiplin. Perguruan tinggi didorong untuk memperkuat kerja sama antara bidang ekonomi, bisnis, data, teknologi, dan AI sehingga mahasiswa memiliki kesempatan mempelajari penyelesaian persoalan melalui pendekatan multidisiplin.
Program studi juga dipandang perlu semakin banyak melibatkan entrepreneur dan praktisi sebagai role model, mentor, maupun sumber pembelajaran, sekaligus memperkuat kemitraan dengan UMKM dan dunia usaha. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperpendek jarak antara pembelajaran akademik dengan kebutuhan serta persoalan nyata di lapangan.
Dalam perspektif yang lebih luas, pendidikan tinggi di era AI perlu terus memikirkan cara mempertahankan relevansinya, termasuk melalui riset mengenai masa depan pendidikan, pekerjaan, dan kompetensi manusia.
Hasil diskusi memberikan arah bahwa pengembangan Program Studi Ekonomi Islam FEB USK ke depan dapat semakin mengintegrasikan kompetensi keilmuan Ekonomi Islam, entrepreneurship, problem solving, serta teknologi dan AI, dengan tetap menjadikan kompetensi manusia dan nilai-nilai kemanusiaan sebagai fondasi utama.
Melalui kegiatan International Benchmarking & Curriculum Development Workshop ini, Prodi Ekonomi Islam FEB USK diharapkan dapat memperoleh masukan strategis untuk penyempurnaan kurikulum sekaligus membuka peluang kolaborasi lebih lanjut dalam bidang pengembangan pendidikan, teknologi, kewirausahaan, ekonomi sosial Islam, riset, serta pemberdayaan UMKM dan masyarakat.
Kegiatan ini sekaligus mempertegas komitmen FEB USK untuk membentuk lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan profesional, tetapi juga mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara bertanggung jawab, menciptakan solusi atas persoalan ekonomi, serta menghadirkan nilai-nilai keadilan dan kemaslahatan dalam aktivitas ekonomi di tengah masyarakat.


Komentar
Posting Komentar