Ketika Sumatera Gelap, Aceh Lebih Siap
Oleh: Hendra Halim (Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala)
Banda Aceh, 23 Mei 2026 - Pemadaman listrik besar yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera akibat gangguan sistem kelistrikan di Jambi bukan hanya peristiwa teknis. Ia juga merupakan peristiwa sosial. Dalam hitungan jam, kita dapat melihat bagaimana masyarakat merespons ketidakpastian: ada yang panik mencari genset, ada yang memburu lampu darurat, ada yang mulai mengeluh karena jaringan internet melemah, dan ada pula yang relatif lebih tenang karena merasa sudah memiliki perlengkapan dasar untuk bertahan.
Dalam situasi ini, Aceh menarik untuk dibaca secara khusus. Bukan karena masyarakat Aceh tidak terdampak. Bukan pula karena pemadaman listrik adalah hal yang ringan. Listrik hari ini sudah menjadi infrastruktur dasar kehidupan modern. Ia menghidupkan rumah tangga, usaha kecil, layanan kesehatan, komunikasi, transaksi digital, pembelajaran, dan keamanan lingkungan. Namun, respons masyarakat Aceh tampak berbeda. Di banyak tempat, masyarakat relatif lebih siap, lebih cepat menyesuaikan diri, dan tidak sepenuhnya masuk dalam kepanikan konsumsi sebagaimana terlihat di beberapa daerah lain.
Kesiapan itu terlihat dari hal-hal kecil, tetapi sangat menentukan. Banyak rumah tangga di Aceh memiliki genset, terutama setelah pengalaman bencana sebelumnya. Lampu emergency bukan barang asing. Power bank menjadi bagian dari perlengkapan harian. Kipas portabel mulai lazim digunakan. Bahkan kabel WiFi yang dapat disambungkan ke power bank sudah menjadi bagian dari strategi bertahan sederhana agar komunikasi tetap berjalan ketika listrik padam. Bagi sebagian orang luar, perlengkapan seperti ini mungkin baru dicari ketika krisis terjadi. Bagi banyak keluarga di Aceh, perlengkapan itu telah lama menjadi bagian dari logika hidup bersama risiko.
Di sinilah perbedaan perilaku masyarakat tampak jelas. Ketika krisis terjadi mendadak, masyarakat yang belum memiliki persiapan akan bergerak dalam pola panic buying. Mereka membeli bukan semata-mata karena kebutuhan rasional, tetapi karena dorongan takut tertinggal, takut tidak kebagian barang, dan takut situasi memburuk. Dalam konteks pemadaman listrik, barang yang diburu tentu bukan beras atau minyak goreng, melainkan genset, lampu darurat, baterai, power bank, kipas portabel, dan perangkat energi cadangan lainnya.
Panik membeli adalah gejala psikologis yang lahir dari ketidakpastian. Ketika orang tidak tahu kapan listrik menyala kembali, mereka berusaha membeli rasa aman. Genset bukan hanya dilihat sebagai mesin penghasil listrik, tetapi sebagai simbol kendali. Lampu darurat bukan hanya alat penerangan, tetapi simbol bahwa keluarga tidak sepenuhnya berada dalam kegelapan. Power bank bukan sekadar aksesori gawai, tetapi jaminan bahwa komunikasi dengan keluarga dan dunia luar masih bisa dipertahankan.
Namun, masyarakat Aceh memiliki pengalaman sosial yang berbeda. Aceh adalah wilayah yang berkali-kali diuji oleh bencana. Tsunami 2004, gempa bumi, banjir, longsor, konflik masa lalu, serta berbagai bencana hidrometeorologi telah membentuk memori kolektif yang kuat. Memori itu tidak hanya tersimpan dalam cerita, tetapi juga dalam kebiasaan rumah tangga. Banyak keluarga belajar bahwa dalam situasi darurat, tidak semua kebutuhan bisa dipenuhi saat itu juga. Persiapan harus dilakukan sebelum krisis datang.
Dari perspektif perilaku manusia, masyarakat Aceh memiliki apa yang dapat disebut sebagai preparedness habit, yaitu kebiasaan kesiapsiagaan yang terbentuk dari pengalaman berulang menghadapi gangguan. Orang yang pernah mengalami bencana besar cenderung memahami bahwa ketenangan bukan berarti tidak takut, melainkan kemampuan untuk tetap bertindak wajar ketika keadaan tidak normal. Mereka tahu bahwa langkah pertama bukan panik, melainkan memastikan air tersedia, baterai cukup, lampu cadangan berfungsi, keluarga dapat dihubungi, dan tetangga dalam kondisi aman.
Kesiapan masyarakat Aceh juga tidak hanya bersifat individual. Ada modal sosial yang bekerja. Di banyak gampong, informasi menyebar melalui tetangga, warung kopi, meunasah, grup percakapan warga, dan jejaring keluarga. Ketika listrik padam, masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada informasi resmi. Mereka saling bertanya, saling membagi kabar, dan saling membantu. Dalam krisis, jaringan sosial seperti ini sangat penting karena manusia tidak hanya membutuhkan alat, tetapi juga kepastian psikologis bahwa ia tidak sendirian.
Inilah yang membedakan kesiapan dengan kepanikan. Kesiapan membuat orang bertindak proporsional. Kepanikan membuat orang bertindak berlebihan. Kesiapan lahir dari pengalaman, pengetahuan, dan perlengkapan yang sudah tersedia. Kepanikan lahir dari rasa tidak siap, informasi yang terbatas, dan bayangan bahwa semua orang sedang berebut sumber daya yang sama. Maka, ketika sebagian masyarakat di luar Aceh mulai menyerbu toko genset atau lampu darurat, banyak masyarakat Aceh justru tinggal mengeluarkan perlengkapan yang memang sudah disiapkan sejak lama.
Tetapi, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membanggakan Aceh secara berlebihan atau merendahkan masyarakat daerah lain. Yang perlu dibaca adalah pelajaran sosialnya. Aceh tampak lebih siap bukan karena masyarakatnya lebih kebal terhadap krisis, melainkan karena masyarakatnya telah terlalu sering berhadapan dengan krisis. Ada harga mahal di balik ketenangan itu. Kesiapan hari ini lahir dari pengalaman pahit masa lalu.
Karena itu, pemerintah dan penyedia layanan publik tidak boleh salah membaca situasi. Ketangguhan masyarakat bukan alasan untuk membiarkan sistem tetap rapuh. Justru karena masyarakat sudah memiliki modal kesiapsiagaan, negara harus hadir dengan sistem yang lebih andal. Pemadaman listrik besar menunjukkan bahwa ketahanan energi bukan hanya urusan teknis PLN. Ia menyangkut keamanan sosial, keberlangsungan usaha mikro, layanan kesehatan, pendidikan, komunikasi, dan aktivitas ekonomi harian.
Aceh dapat menjadi contoh penting bagi daerah lain di Sumatera. Bukan dalam arti semua rumah harus memiliki genset, sebab tidak semua keluarga mampu membelinya. Namun, setiap rumah tangga perlu memiliki standar kesiapsiagaan dasar, seperti lampu darurat, power bank, air bersih, makanan sederhana, baterai cadangan, serta rencana komunikasi keluarga. Sekolah, kampus, rumah ibadah, kantor desa, puskesmas, dan pelaku usaha kecil juga perlu memiliki protokol sederhana menghadapi pemadaman panjang.
Ke depan, literasi kebencanaan tidak boleh hanya berbicara tentang gempa dan banjir. Ia juga harus mencakup krisis listrik, krisis air, gangguan komunikasi, gangguan pangan, dan gangguan layanan digital. Masyarakat modern semakin bergantung pada teknologi, tetapi sering lupa bahwa teknologi juga rentan. Ketika listrik padam, yang diuji bukan hanya kabel dan gardu, melainkan kebiasaan hidup kita.
Aceh mengajarkan bahwa masyarakat yang sering diuji bencana dapat mengubah pengalaman pahit menjadi kecerdasan bertahan. Genset, power bank, lampu emergency, kipas portabel, dan kabel WiFi ke power bank hanyalah simbol kecil dari pelajaran yang lebih besar, yaitu kesiapan tidak dibangun ketika krisis datang, tetapi jauh sebelum krisis terjadi.
Pemadaman listrik di Sumatera pada akhirnya memberi kita satu pelajaran penting. Dalam krisis, masyarakat yang paling tenang bukan selalu masyarakat yang paling kuat secara ekonomi, tetapi masyarakat yang paling terbiasa membaca risiko, menyiapkan diri, dan saling menjaga. Aceh telah menunjukkan itu. Kini tugas kita adalah menjadikan kesiapsiagaan bukan hanya kebiasaan masyarakat yang pernah terluka oleh bencana, tetapi budaya publik seluruh Indonesia.

Komentar
Posting Komentar