Prodi Ekonomi Islam FEB USK Gelar International Guest Lecture, Angkat Isu Sustainable Marketing dan Circular Fashion

Banda Aceh — Program Studi Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Syiah Kuala (USK) menyelenggarakan International Guest Lecture dengan menghadirkan narasumber internasional, Assoc. Prof. To’ Puan Dr. Marhana Mohamed Anuar (Associate Professor of Marketing, Universiti Malaysia Terengganu, Malaysia), Senin (22/12/2025) mulai pukul 08.30 WIB.

Kuliah tamu ini mengusung tema “The Future of Sustainable Marketing: Aligning Business Goals and Social Responsibility” dengan fokus pembahasan pada tantangan dan peluang pemasaran berkelanjutan, khususnya di industri fesyen, serta bagaimana bisnis dapat menyelaraskan kinerja komersial dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Koordinator Prodi Ekonomi Islam FEB USK, M. Haris Riyaldi, M.Soc.Sc., dalam laporannya menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari agenda internasionalisasi akademik program studi. “Kegiatan international guest lecture kami desain sebagai ruang pembelajaran lintas negara agar mahasiswa memperoleh perspektif global, terlatih berdiskusi ilmiah dengan pakar internasional, dan melihat praktik pemasaran modern yang relevan dengan tantangan keberlanjutan,” ujarnya. Ia menambahkan, forum ini juga menjadi pintu masuk penguatan jejaring kolaborasi akademik yang dapat ditindaklanjuti melalui kegiatan riset dan publikasi bersama.

Dalam paparannya, Assoc. Prof. Dr. Marhana menjelaskan bahwa isu keberlanjutan telah menjadi variabel strategis dalam pemasaran, bukan sekadar pelengkap komunikasi merek. Ia mencontohkan tekanan lingkungan dari industri fesyen yang kerap dikategorikan sebagai salah satu industri dengan dampak polusi tinggi, sehingga mendorong kebutuhan transformasi menuju praktik yang lebih bertanggung jawab.

Narasumber juga memaparkan data terkait timbulan limbah tekstil sebagai pengingat bahwa problem lingkungan bukan isu abstrak. Berdasarkan rujukan SWCorp dan KlothCares (2024), Malaysia memproduksi sekitar 13,9 juta ton limbah pada 2021, dengan 3,1 persen (432.901 ton) di antaranya merupakan limbah kain yang didominasi material sintetis. Data tersebut, menurutnya, memperlihatkan pentingnya upaya sistemik dari sisi produksi, konsumsi, dan tata kelola rantai pasok.

Selain faktor dampak lingkungan, ia menguraikan sejumlah alasan mengapa sustainable marketing semakin krusial. Pertama, meningkatnya kesadaran konsumen yang menuntut produk tidak hanya menarik, tetapi juga etis dan transparan. Kedua, penguatan reputasi merek karena keberlanjutan dinilai meningkatkan kepercayaan, loyalitas, dan ekuitas merek jangka panjang. Ketiga, adanya tekanan regulasi yang mendorong praktik hijau. Keempat, keberlanjutan dapat menjadi pembeda kompetitif yang kuat di tengah pasar yang semakin padat dan kompetitif.

Pada sesi inti, narasumber memaparkan langkah-langkah untuk menyelaraskan tujuan bisnis dengan tanggung jawab sosial. Di antaranya: penggunaan bahan ramah lingkungan (misalnya material daur ulang, pewarna berbasis tumbuhan), penerapan praktik ketenagakerjaan yang etis, hingga penguatan konsep circular fashion melalui program take-back, daur ulang, resale platform, dan layanan perbaikan agar umur pakai produk lebih panjang. Ia juga menekankan pentingnya transparansi dan keterlacakan (traceability) rantai pasok, termasuk pemanfaatan teknologi pelacakan, serta perlunya edukasi dan keterlibatan komunitas melalui kampanye atau kegiatan sosial lingkungan

Kepala Departemen Ekonomi Pembangunan FEB USK, Prof. Dr. Taufiq C. Dawood, saat membuka acara menekankan bahwa forum akademik internasional semacam ini harus menjadi tradisi yang memperkuat kultur akademik dan kualitas pembelajaran. “Kegiatan internasional bukan hanya seremonial. Yang kita dorong adalah penguatan kapasitas mahasiswa dan dosen dalam berpikir kritis, berbasis data, dan mampu berdialog dengan perspektif global,” katanya. Ia juga mendorong agar kolaborasi dengan mitra luar negeri ditindaklanjuti secara konkret melalui riset bersama, pertukaran pengetahuan, dan publikasi.

Dukungan juga disampaikan Dekan FEB USK yang mengapresiasi Prodi Ekonomi Islam karena konsisten menghadirkan kegiatan berskala internasional. “Saya mengapresiasi Prodi Ekonomi Islam yang terus menjadi penggerak kegiatan internasional. Ini sejalan dengan arah penguatan mutu akademik dan reputasi FEB, sekaligus memperluas jejaring kolaborasi yang berdampak bagi mahasiswa dan institusi,” ujarnya. Dekan menambahkan bahwa fakultas mendorong program studi untuk memperbanyak forum ilmiah lintas negara, termasuk menghadirkan pakar internasional dengan tema yang relevan terhadap isu strategis, seperti keberlanjutan dan transformasi ekonomi.

Menutup pemaparan, narasumber juga mengajak sivitas akademika untuk mendukung ekosistem keberlanjutan melalui tindakan praktis: belanja yang lebih sadar (menghindari fast fashion), merawat dan memperpanjang usia pakai produk, berpartisipasi dalam ekonomi sirkular melalui donasi atau jual ulang, menuntut transparansi dari merek, serta menyebarkan kesadaran di lingkungan sekitar.

Diskusi berlangsung interaktif. Sejumlah peserta mengajukan pertanyaan tentang perubahan perilaku konsumen, strategi membangun kepercayaan merek melalui transparansi, dan bagaimana konsep circular fashion dapat diterapkan pada konteks pasar lokal. Prodi Ekonomi Islam FEB USK menyampaikan komitmen untuk melanjutkan agenda serupa secara berkala sebagai bagian dari penguatan internasionalisasi, perluasan kolaborasi, dan peningkatan daya saing lulusan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Dosen Prodi Ekonomi Islam FEB USK Raih Hibah Kompetitif Penelitian dan Pengabdian Tahun 2025

USK Menjuarai Berbagai Kategori Kewirausahaan Pada UTU Awards ke 11

Wakil Rektor 3 USK Buka Rakor dan Visitasi Venue IMT-GT Varsity Carnival ke-39 di Thaksin University, Thailand